TIGA KARAKTERISTIK SIFAT RIYA

TIGA KARAKTERISTIK SIFAT RIYA

Assalamu’alaikum Warahamatullahi Wabarakatuh.

 

Selamat datang kembali di webiste Sang Pencerah. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tiga karakteristik sifat Riya.

Riya merupakan sifat atau perilaku tercela yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sifat tersebut tentunya harus dihindari,sebab selain berdosa, sifat riya juga akan merugikan diri sendiri, keluarga dan orang lain.

Riya menurut bahasa artinya memperlihatkan, sedangkan menurut istilah riya artinya memperlihatkan suatu ibadah dan amal salih kepada orang lain, bukan mencari rida Allah swt. Hukum berperilaku riya adalah haram dan wajib dijauhi, sebab selain dapat merusak keimanan seseorang riya juga merupakan syirik kecil. Rasulullah saw bersabda:

أَخْوَفُ مَااَخَافُ عَلَيْكُمُ الْشِّرْكُ الْاَ صْغَرُفُسُىِٔلَ عَنْهُ فَقَالَ الرِّيَاءُ

“Sesuatu yang sangat aku takutkan yang akan menimpa kamu ialah syirik kecil. Nabi SAW, ditanya tentang apa yang dimaksud syirik kecil itu, maka beliau menjawab yaitu riya.” (HR Ahmad)

Untuk melihat seseorang itu riya atau tidak, banyak hal yang dilakukan seperti berprilaku riya dengan tampilan fisik. Yaitu seperti menampilkan fisik yang lemah lagi pucat dan suara yang sangat lemah agar dianggap sebagai orang yang sangat takut akhirat, atau rajin berpuasa.Riya dengan penampilan seperti membiarkan bekas sujud di dahi dan pakaian yang seadanya agar tampil seperti ahli tasawuf. Riya dengan perkataan, yaitu seperti banyak memberikan nasihat dan sebagainya kepada orang. Begitu juga dengan amalan, orang yang sudah terjangkit penyakit riya akan memperlama rukuk dan sujud ketika salat agar tampak khusu’ dan lain sebagainya.

Sayyidina Ali mengatakan, ada tiga ciri-ciri orang yang bersifat riya.

لِلْمُرَائِي ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ : يَكْسَـلُ إذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَـطُ إذَا كَانَ فِي النَّاسِ، وَيَزِيدُ فِي الْعَمَلِ إذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ وَيَنْقُصُ إذَا ذُمَّ

Orang riya memiliki tiga ciri: malas ketika sendirian, rajin saat di tengah banyak orang, serta amalnya meningkat kala dipuji dan menurun kala dicaci.” (Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, dikutip dari Ihya’ ‘Ulumiddin karya Imam al-Ghazali)

Rasulullah menyebut riya sebagai syirik kecil. Dikatakan syirik karena ia menyekutukan Allah dengan nafsu diri sendiri atau respon orang lain. Sebuah amal yang dihinggapi riyaseringkali mempertimbangkan bagaimana orang lain memberi tanggapan. Ia lahir bukan dari ketulusan. Melainkan, terdapat campuran keinginan mendapat citra positif di mata manusia. Akibatnya, fluktuasi amal kebaikan berlangsung naik-turun seiring dengan besar-kecilnya potensi keuntungan penilaian dari manusia.

Riya ada dua jenispertama hukumnya syirik akbar (besar). Hal ini terjadi jika sesorang melakukan seluruh amalnya agar dilihat manusia, dan tidak sedikit pun mengharap wajah Allah. Dia bermaksud bisa bebas hidup bersama kaum muslimin, menjaga darah dan hartanya. Inilah riya’ yang dimiliki oleh orang-orang munafik. Allah berfirman tentang keadaan mereka:“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QSanNisa’: 142)

(tiga karakteristik sifat riya)

Kedua adalah riya yang terkadang menimpa orang yang beriman. Sikap riya ini terjadang muncul dalam sebagian amal. Seseorang beramal karena Allah dan juga diniatkan untuk selain Allah. Riya jenis seperti ini merupakan perbuatan syirik asghar (kecil).

Baca Juga :  Kata Nabi, Pengadu Domba Tak Masuk Surga

Sifat riya memang sangat tercela, oleh karena itu sifat tersebut harus dihindari oleh umat Islam. Berikut ini beberapa cara untuk menghindari sifat riya di antaranya:

Pertama, membiasakan niat untuk beribadah semata-mata karena Allah swt. Kedua, tidak memamerkan semua apa yang dimiliki. Sebab semua itu hanya titipan Allah dan nantinya akan kembali kepada kepada Allah. Ketiga, membiasakan diri selalu bersyukur atas segala sesuatu yang telah Allah swt berikan. Terakhir, dalam beribadah dan beramal salih selalu didasari niat ikhlas karena Allah swt. Wallahu ‘alam

Sekian yang dapat disampaikan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.