MUSLIM YANG BERJIWA MANDIRI

MUSLIM YANG BERJIWA MANDIRI

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kembali lagi di website Sang Pencerah. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai kemandirian dalam islam.

Untuk menjadi muslim mandiri memerlukan adanya berbagai bekal yang harus ada, ketika berada di tengah perjalananpun tentu ada halangan yang menghadang. Karena itu muslim mandiri adalah sebuah cita-cita bagi setiap muslim, bagaimana ia dapat berislam sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam dan orang-orang yang mengikutinya.

Dia juga dapat beribadah sesuai dengan contoh Nabi yang muncul dari kesadaran diri, serta ia dapat berfikir dengan landasan yang kuat sebagai hasil dari keilmuan yang dimiliknya.

Di antara bekal yang harus dimiliki tersebut adalah ilmu. Ilmu yang berkaitan dengan keyakinan aqidah Islam. Ia merupakan pondasi dalam membina bangunan Islam yang kokoh. Dengannya Islam berdiri tegak, dan dengannya pula ibadah dapat terlaksana dengan bimbinganNya.

Selanjutnya berlepas dirinya kita dari berbagai pemikiran yang tidak selaras dengan nilai-nilai yang dianut Islam. Pelepasan diri ini meliputi tindakan tidak menyetujui dan melakukan bantahan-bantahan yang sesuai dengan kemampuan kita. Hal ini kita lakukan karena apa yang mereka gembar-gemborkan dengan kebebasan berfikir pada dasarnya adalah pembebekan terhadap pola pikir kaum orientalis yang ingin menghancurkan Islam.

Jika mereka berslogan “Kamilah muslim mandiri dan moderat yang membebaskan seluruh akal pikiran sesuai dengan fitrahnya”. Maka hal ini dapat kita jawab, “Dari mana anda mendapatkan pemikiran-pemikiran tersebut? bukankah itu adalah pemikiran usang yang kalian ambil dari para pendahulu kalian dari kalangan orang-orang yang ingkar dengan Islam, walaupun mereka mengaku muslim?

Demikianlah bantahan terhadap mereka. Satu nama tapi beda makna, jika muslim mandiri yang kita maksudkan adalah bebasnya pikiran kita dari kelompok-kelompok yang menyimpang, sedangkan muslim mandiri menurut mereka adalah muslim yang berfikir bebas tanpa terikat oleh teks-teks suci dan bimbingan Nabi.

Jadi cukup jelas bahwa muslim mandiri yang dimaksud dalam buku ini adalah seorang muslim yang tidak mengikatkan diri kepada kelompok-kelompok yang tidak selaras dengan Islam, ia berlepas diri dengannya baik dari segi cara beragama, beribadah dan berfikir.

Seorang muslim mandiri akan membekali dirinya dengan bekal ilmu yang shahih dan dengannya ia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Selain itu dalam beribadah juga ia tidak terikat dengan aturan-aturan yang dibuat oleh manusia, apalagi tanpa adanya dalil yang dijadikan sandaran.

Kemudian akan timbul permasalahan, bagaimana dengan kelompok-kelompok da’wah yang ada saat ini? apakah kita tidak boleh masuk ke dalamnya atau boleh-boleh saja? dan bagaimana sikap kita terhadap mereka?

Pemahaman terhadap kemandirian dalam beragama haruslah selalu kita tingkatkan. Menanggapi pertanyaan-pertanyaan sebelumnya maka bisa kita jawab bahwa, jika kelompok-kelompok da’wah tersebut tidak mengekang kita dan mengikat kita dengan aturan-aturan yang membuat kita terjerat di dalamnya maka kita tidak boleh masuk ke dalamnya.

Sebenarnya setiap perkumpulan apa saja yang membuat pemikiran kita terpasung padanya maka ia adalah musuh besar muslim mandiri, jadi tidak hanya kelompok-kelompok dakwah saja. Sebuah jama’ah pengajian yang hanya memberikan “doktrin-doktrin” kelompoknya saja juga merupakan pemandulan terhadap kemandirian beragama. Sehingga masuk ke dalamnya merupakan bentuk pengkerdilan kepada Islam sendiri.

Jadi bagaimana cara kita mengetahui sebuah kelompok itu selaras dengan kemandirian beragama? secara umum adalah setiap kelompok yang selalu berpegang teguh kepada Al-Islam, tidak mendeskriditkan kelompok lain secara serampangan apalagi tanpa bukti konkrit, serta kelompok tersebut tidak menyelisihi cara beragama Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam dan para shahabatNya.

(muslim yang berjiwa mandiri)

Inilah muslim mandiri, walaupun ia terbebas dari kelompok-kelompok yang menyimpang namun ia juga bijak dalam membantah setiap subhat yang muncul, tentunya dengan ilmu seseorang itu dapat tegak berdiri di atas pemahaman yang benar.

Dan kabar gembira bagi orang-orang yang dapat berpijak di atas kedua kakinya di dalam beragama :

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. QS Ali Imran ayat 139.

Beriman yang dimaksud adalah beriman yang muncul dan timbul dari dalam hati sanubari seseorang, bukan karena makhluk lainnya.

Iman seperti inilah yang memberikan buahnya setiap waktu dan setiap saat kepada pemilik dan orang-orang di sekitarnya, sementara akarnya menghujam ke bumi dan cabangnya menjulang ke angkasa :

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ(24)  تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. QS Ibrahim ayat 24-25.

Adapun halangan-halangan yang terjadi di tengah perjalanan menuju muslim mandiri adalah adanya kerancuan mengenai apa sebenarnya yang diinginkan dari kemandirian dalam beragama ini? apakah ia sekadar trend, atau hanya mencari perhatian seseorang?

Muslim mandiri adalah cita-cita luhur yang ingin mengantarkan setiap muslim untuk dapat menghujamkan seluruh keyakinannya ke dalam hati pemiliknya, ia membebaskan dan melepaskan diri dari berbagai pemikiran manusia yang membawa kepada pendapat pribadi atau golongan. Ia mengembalikan setiap pendapat yang shahih kepada para ahlinya. Demikian pula ia berusaha untuk dapat menumbuhkan kesadaran diri bahwa manusia adalah lemah di hadapanNya.

Muslim mandiri menginginkan adanya sebuah sikap keagamaan di atas pemahaman yang tumbuh dari perjuangan dengan bekal ilmu yang telah ditetapkan oleh Islam, ia tidak mungkin ada tanpa adanya kebebasan untuk memilih sesuai dengan pemahamannya, bukan berdasarkan kepada doktrin-doktrin yang mengikat dan menjerat nalar dan akal pikiran.

(muslim yang berjiwa mandiri)

Muslim mandiri berlepas diri dari berbagai kelompok-kelompok yang mengatas namakan agama namun tidak ada dasarnya, apa lagi jika kelompok tersebut mengajarkan sikap fanatik terhadap kelompoknya. Namun jika sekadar organisasi kemasyarakatan maka itu bukan termasuk padanya.

Selanjutnya muslim mandiri mendambakan persatuan di atas pemahaman Islam, bukan di atas pemahaman golongan.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…. QS Ali Imran ayat 103.

Tali Allah yang kokoh adalah Al-Islam dengan segala syariatNya, maka kewajiban kita untuk berpegang teguh padanya.

Seorang muslim mandiri berusaha untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat mencerai-beraikan barisan kaum muslimin. Bahkan ia seharusnya menjadi orang-orang yang terdepan di dalam memperjuangkan persatuan kaum muslimin.

(muslim yang berjiwa mandiri)

Di dalam beribadah seorang muslim tidaklah beribadah kecuali ada dalil yang dapat dijadikan dasar. Dasar ini diperoleh dari kesungguhannya dalam mencari kebenaran, baik secara langsung dari teks-teks wahyu atau dari para ahli yang kompeten di bidangnya. Ia sangat menentang setiap ibadah yang tidak memiliki dasar, walaupun hal tersebut banyak dilaksanakan oleh manusia. Karena banyaknya manusia bukanlah ukuran kebenaran dalam agama.

Ukuran kebenaran adalah setiap ibadah yang disandarkan kepada perbuatan, perkataan dan hal-hal yang didiamkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa salamyang dilakukan oleh para shahabat beliau, selain itu maka harus ada dasarnya yang kuat.

Dan ibadah tersebut dilakukan dengan kesadaran diri yang penuh bukan hanya mengikuti orang lain yang beribadah tanpa mengetahui dasarnya, atau ibadah tersebut dilakukan bukan karena Allah ta’ala melainkan ada unsur riya, sum’ah dan ingin mendapatkan kehidupan duniawi saja.

Dalam berfikir seorang muslim mandiri tidak mengikatkan diri kepada pemikiran-pemikiaran yang didasarkan pada orang-orang kafir, orang-orang yang membenci Islam atau orang-orang orientalis, di mana mereka mempelajari Islam bukan untuk mencari kebenaran tapi hanya untuk mencari kelemahan Islam.

Pemikirannya didasarkan kepada pola-pola pikir Islami yang telah dimilikinya sejak ia berada di alam ruh, alam janin hingga ia sampai ke alam dunia ini. Semua itu tidak dicemari oleh berbagai pemikiran yang menyeleweng dari fitrah manusiawinya.

Kemandirian berfikirnya berpijak pada nash-nash yang kuat sebagai pedoman dalam memilih, ia timbang setiap pemikiran-pemikiran yang ada di dunia ini, sehingga dengan itu ia mampu memilah dan memilih mana pola pikir yang Islami dan mana pola pikir yang bertentangan dengannya.

Semua itu menjadikan seorang muslim mandiri berdiri kokoh di atas prinsip hidup, ia tidak akan goyah diguncang oleh berbagai prahara pemikiran dan subhat-subhat yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam. Dengan ini dia hanya mengharapkan keridhaanNya dan surga yang telah dijanjikanNya.

Sekian yang bisa kita share pada kesempatan kali ini. Wallahu’alam.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.