EFEK PACARAN DALAM ISLAM

EFEK PACARAN DALAM ISLAM

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Selamat datang kembali di website kami.

Pada kesempatan ini kami me-repost kutipan dari ceramah Ustadz Hanan Attaki ketika ada pertanyaan mengenai hukum pacaran. Dan ada sedikit beberapa perubahan dari aslinya demi kenyamanan pembaca tanpa merubah makna sebenarnya. 

 

Saya enggak mau membahas hukum pacaran, tapi saya akan membahas efek dari pacaran. Pertama, yang harus coba kita bangun dulu, yaitu ‘Keyakinan’. Bahwa Islam itu, syariat Allah itu adalah ‘Solusi dalam hidup kita’, ‘bukan beban!’.

 

Termasuk pernikahan, pernikahan itu solusi, bukan beban! Jadi kalau kita sampai berpikir,

Nikah itu beban,

nikah itu tanggung jawab,

nikah itu banyak amanah,

nikah itu bayar listrik,

nikah itu bayar kontrakkan.

 

Emangnya kalau kita sendiri nggak bayar listrik dan kontrakan?

emangnya kalau kita sendiri, kita puasa enggak makan-makan?

terus pasangan kita enggak bayar listrik dan kontrakan di kos-kosannya?

emangnya dia enggak makan?

 

Kita sama-sama manusia, kita makan pasangan kita juga makan.

Kita bayar kontrakan dia juga bayar kontrakan.

Enggak ada yang berubah loh statusnya.

 

Dan Islam mensyariatkan pernikahan itu bukan sebagai beban, karena kaidah yang paling dasar dalam Islam itu apa?

efek dari pacaran dalam islam

efek dari pacaran dalam islam

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya:

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (Q.S. (02:185))

 

Allah itu pengen memudahkan kalian, Allah enggak pengen menyusahkan kalian. Itu kaidah dasar dalam agama, Allah pengen memudahkan kita. Termasuk pernikahan itu kemudahan.

 

Cuman syaitan (‘…yuwaswisu fi sudurinnas’ (Q.S. 114:4)) mewas-waskan kita dengan takhwif ditakut-takutin hingga kesannya pacaran itu lebih aman daripada pernikahan terutama untuk cewe (akhwat/prempuan), menikah itu jauh lebih aman dan nyaman daripada pacaran.

 

Dan berlaku juga untuk cowok, tapi khusunya buat cewek menikah itu jauh lebih aman. Makanya jangan terlalu dalam keterlibatan hubungan kita kepada seorang cowok (ikhwan/laki laki) kalau belum halal, kenapa? Kita meresikokan banyak hal.

 

‘Mending berstatus, habis diputusin jomblo lagi ustadz daripada janda.’

Enggak, di sisi Allah itu lebih utama menjadi janda, daripada jadi jomblo abis diputusin, tapi udah ngapa-ngapain. Karena janda itu terhormat, dia menyerahkan tubuh dan hatinya dengan cara yang elegan, dengan cara yang halal, dengan cara yang bersih dan suci.

 

Sementara kalau kita pacaran,

dengan cara yang kotor,

dengan cara yang aib,

dengan cara yang Allah enggak suka.

 

Dan gimana pun, naudzubillah. Kalau ada janda mungkin dia janda muda, baru menikah beberapa hari atau beberapa bulan bercerai. Itu lebih baik daripada orang yang tetap pacaran.

 

Jadi jangan mem-bully orang-orang yang mungkin tidak mampu mempertahankan pernikahan dalam waktu yang lama. Karena gimana pun mereka, mereka sudah berusaha melakukan yang Allah suka, walaupun kemudian mungkin ada sedikit ujian tidak mampu bertahan. Setidaknya mereka udah try dan do yang paling best yang mereka bisa, effort-nya udah luarbiasa. Jadi jangan menghakimi, mem-bully.

 

‘Aa.. baru 2 bulan, 3 bulan menikah udah cerai’,

‘Aa.. enggak keren’ (segala macam)

Masih mending mereka, daripada yang kemudian udah menyerahkan tubuhnya. Dengan cara yang tidak elegan dan tidak terhormat. Kemudian diputusin, itu enggak banget…

 

Maka temen-temen kita yakini dulu bahwa,

syariat Islam itu solusi.

syariat itu mudah,

syariat Islam itu sempurna,

enggak ada celah kekurangan di dalamnya.

(efek pacaran dalam islam)

Sehingga kita yakin bahwa gimana-gimana pun enggak bisa dibandingin, pacaran sama menikah, itu bukan perbandingan. yang ada perbandingan, nikah muda atau nikah nanti aja. Itu boleh dibandingin, karena dua-duanya halal.

 

Enggak boleh membandingkan yang halal dengan yang haram, karena kita enggak boleh istikharah antara dua hal pilihan, satu halal satu haram, itu enggak perlu istikharah.

 

‘Eeh. . . gua pacaran atau nikah ya?’

‘Oh, shalat istikharah dulu deh’

Enggak ada itu, istikharah tidak berlaku untuk dua hal, yang satu halal dan satu haram, tidak berlaku. Dia hanya berlaku untuk dua-dua yang halal cuman kita bingung mana yang lebih pas buat kita. Jadi kalau mau membandingkan jangan nikah atau pacaran. 

 

Tapi nikah muda atau nikah nanti,

nikah usia cukup atau nikah usia lanjut,

itu boleh dibandingin.

Karena dua-duanya baik, dua-duanya halal. Tapi kalau nikah dengan pacaran, enggak perlu dibandingin.

 

‘ehh. . . ini mencuri atau bekerja ya?’

Itu enggak perlu istikharah.

‘Ini buka jilbab demi karir atau pakai jilbab dengan karir nanti akan beresiko’.

Enggak perlu istikharah. Karena itu yang satu halal yang satu haram.

Tidak berlaku istikharah dalam pilihan seperti itu.

Jadi pertanyaannya juga mungkin sudah keliru nih, kita luruskan sedikit.

Tidak membandingkan antara pernikahan dengan pacarannya. Yang dibandingkan antara pernikahan sekarang atau nanti saja. Setelah lulus kuliah, itu boleh, dan jawabanya sangat relatif.

 

Kalau buat saya pribadi. Karena emang salah satu profesi saya nge-bully para jomblo, dalam tanda petik artinya ‘memotivasi’. Yaudah makin cepat makin baik walaupun bukan berarti tanpa ada prepare.. ikhtiar.. usaha.. persiapan.. bukan, yang jelas kebaikan itu lebih baik disegerakan.

 

Dan enggak usah khawatirlah, hidup kita tuh ‘kan Allah yang jamin, Allah kan yang memelihara kita, bukan mertua, bukan orang tua. Kalau Allah yang memelihara kita, sama aja statusnya masih sendiri atau udah punya pasangan. Enggak ada bedanya.

Jadi buat saya sih enggak perlu di bandingkan antara pacaran dengan menikah yang jelas pacaran setelah nikah itu ‘keren…

 

Saya udah ngerasain pacaran setelah nikah itu keren banget. Lebih keren daripada sebelum menikah. Pokoknya kalau belum nikah tuh, semua-semuanya syubhat atau haram kan ya? Nambah-nambah dosa. Ngeliat aja dosa. Kalau udah nikah, ngeliat aja pahala. Jadi makin kayak tiap hari dapat pahala gitu ‘kan, insyaa Allah.

 

Jadi enggak perlu dibandingkan! Hanya masalahnya mana yang lebih cocok buat kita.

bukan mana yang lebih utama, sekarang atau nanti.

Sekian, mohon maaf apabila ada kekurangan. Komentar, kritik, ataupun saran dari pembaca sangat bermanfaat demi kemajuan website kami.

Efek pacaran dalam islam.

Jazakallah Khair, Barakallahu Fi Kum.

Wassalamua’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.